GAYA HIDUP SEHAT

Benarkah Obat Sakit Kepala Bisa Menyebabkan Anemia Aplastik?

Berita tentang meninggalnya komedian Babe Cabita akibat penyakit anemia aplastik menyebabkan nama penyakit ini menjadi dikenal publik. Seiring dengan berita tersebut, muncul lagi berita viral lain yang bermula dari platform X,  bahwa ada obat sakit kepala yang disebut dapat menyebabkan anemia aplastik. Sontak, masyarakat menjadi heboh, karena obat sakit kepala merupakan obat yang sering dikonsumsi masyarakat. Apalagi merk yang disebutkan pada berita viral tersebut adalah merk yang cukup terkenal. Mulailah beberapa media mengontak untuk menanyakan penjelasan dariku. Supaya tidak berulang kali menjelaskan, aku tuliskan saja ya.
 
APA ITU PENYAKIT ANEMIA APLASTIK?
Anemia aplastik adalah kondisi langka namun serius di mana sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel-sel darah baru yang cukup, termasuk sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Sumsum tulang yang sehat merupakan jaringan lunak yang terdapat di dalam tulang-tulang besar dan berfungsi sebagai "pabrik" untuk memproduksi sel-sel darah.
Gejala anemia aplastik dapat bervariasi, tetapi yang umum meliputi: Kelelahan dan lemah akibat kurangnya sel darah merah;  mudah memar atau berdarah karena kurangnya trombosit yang membantu pembekuan darah; infeksi yang sering atau parah akibat penurunan sel darah putih yang bertugas melawan infeksi; pusing atau pingsan (jika anemia sangat parah), dan pembengkakan di area tertentu, seperti pergelangan kaki, kaki, atau area lainnya (jika ada penumpukan cairan yang disebabkan oleh penurunan jumlah trombosit).
 
APA PENYEBAB ANEMIA APLASTIK?
Penyebab pasti dari anemia aplastik sering tidak diketahui, tetapi beberapa faktor yang bisa berperan, antara lain:
Gangguan autoimun: Sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang dan merusak sel-sel sumsum tulang.
Paparan terhadap bahan kimia: Bahan kimia tertentu, seperti pestisida atau pelarut organik, dapat merusak sumsum tulang.
Penggunaan obat-obatan: Beberapa obat, termasuk obat kemoterapi dan antibiotik tertentu, bisa merusak sumsum tulang.
Radiasi: Paparan radiasi dalam dosis tinggi dapat merusak sel-sel sumsum tulang.
Infeksi: Infeksi tertentu dapat berdampak pada sumsum tulang.
Faktor genetik: Beberapa kondisi genetik, seperti sindrom Fanconi, dapat meningkatkan risiko anemia aplastik.
 
BENARKAH OBAT DAPAT MENYEBABKAN ANEMIA APLASTIK?
Ya, beberapa obat dilaporkan dapat menyebabkan anemia aplastik. Namun perlu diketahui bahwa kejadian anemia aplastik akibat penggunaan obat ini kejadiannya sangat JARANG dan itupun terjadi pada penggunaan yang kronis dengan dosis besar, dan TIDAK SELALU TERJADI pada setiap orang.
Obat-obat yang dilaporkan berisiko menyebabkan anemia aplastik  meliputi:
• Chloramphenicol: Antibiotik ini pernah umum digunakan, namun penggunaannya sekarang dibatasi karena risiko serius termasuk anemia aplastik.
• NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs): Obat-obatan anti-inflamasi nonsteroid, seperti indomethacin dan fenylbutazon, bisa berisiko menimbulkan anemia aplastik, meskipun kasusnya jarang.
• Sulfonamides: Kelompok antibiotik ini, termasuk sulfasalazine dan trimethoprim-sulfamethoxazole, juga telah dikaitkan dengan anemia aplastik.
• Antikonvulsan: Beberapa obat yang digunakan untuk mengobati epilepsi, seperti carbamazepine dan phenytoin, bisa menyebabkan anemia aplastik.
• Obat tiroid: Seperti propylthiouracil dan methimazole yang digunakan untuk mengobati hipertiroidisme.
• Obat sitotoksik dan kemoterapi: Obat-obatan yang digunakan dalam kemoterapi, seperti cyclophosphamide dan chlorambucil, memiliki risiko yang lebih tinggi menyebabkan anemia aplastik.
• Obat antiretroviral: Dalam beberapa kasus, obat-obatan yang digunakan untuk mengobati HIV/AIDS telah dilaporkan menyebabkan anemia aplastik.
• Obat lain: Obat lain yang kurang umum tapi berpotensi menyebabkan anemia aplastik adalah gold compounds, yang digunakan dalam pengobatan artritis reumatoid, dan obat antiplatelet seperti ticlopidine.
Jadi, sebenarnya tidak hanya obat sakit kepala yang berpotensi menyebabkan anemia aplastik, bahkan ada obat-obat lain yang potensinya lebih besar. Tetapi sekali lagi, kejadian anemia aplastik akibat obat ini kejadiannya termasuk JARANG. Apalagi seperti obat sakit kepala yang hanya digunakan dalam jangka pendek, jika perlu saja. Pengawasan obat pasca pemasaran di Indonesia belum menjumpai laporan kejadian anemia aplastik akibat obat.
 
LALU, AMANKAH MENGGUNAKAN OBAT SAKIT KEPALA?
Obat sakit kepala yang beredar di Indonesia sudah mendapatkan ijin BPOM dan aman digunakan, selama digunakan sesuai dengan petunjuk pemakaiannya. Adanya informasi pada kemasan tentang risiko menyebabkan anemia aplastik memang perlu dicantumkan sesuai aturan BPOM, walaupun kejadiannya sangat jarang, yaitu 1 kasus per 1 juta pengguna. Jadi JANGAN KUATIR menggunakan obat-obat sakit kepala, termasuk obat Paramex yang diviralkan oleh netizen terkait dengan adanya informasi ttg efek samping anemia aplastik pada kemasannya. Sampai saat ini, kegiatan pengawasan obat pasca pasar (farmakovigilans) BPOM belum pernah mendapatkan laporan kejadian anemia aplastik akibat obat sakit kepala.
Jika ada sakit kepala yang terus menerus tidak sembuh dengan obat sakit kepala biasa, segera periksakan ke dokter karena mungkin merupakan gejala adanya gangguan penyakit lain yang lebih berat. Selain itu, penting untuk memantau efek samping obat-obat apapun yang digunakan, terutama jika digunakan dalam jangka waktu lama atau dalam dosis tinggi. Jika  mengalami gejala yang mencurigakan seperti kelelahan yang tidak biasa, mudah memar, atau infeksi yang sering, sangat penting untuk segera menghubungi dokter.
Begitu ya, semoga bermanfaat. Gunakan obat dengan tepat dan bijak.
 
Sumber: Facebook - Prof. Dr. apt. Zullies Ikawati (Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi UGM)

 

Artikel Lainnya

Anda Berusia Muda dan Sering Mengalami Nyeri Punggung Bawah pada Malam / Pagi Hari? Anda Wajib Membaca Ini

Low back pain / nyeri punggung bawah merupakan keluhan berupa rasa nyeri yang terjadi pada punggung bagian bawah, yang terkadang nyeri yang dirasakan dapat menjalar hingga ke bokong dan kaki. Terkadang low back pain ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyebab low back pain ada bermacam-macam, bisa karena penyebab mekanik seperti kebiasaan posisi duduk yang salah, cara mengangkat barang yang salah, atau pernah mengalami cedera. Bisa juga penyebabnya karena faktor inflamasi atau...

Selengkapnya

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Selama Isolasi Mandiri

Pandemi COVID-19 di Indonesia masih merajalela. Di tengah penambahan kasus infeksi COVID-19 yang tinggi ini, masyarakat dihimbau untuk semakin memperketat protokol kesehatan. Sementara itu, orang-orang yang terinfeksi COVID-19 dengan gejala ringan atau tanpa gejala disarankan untuk melakukan isolasi mandiri selama 10-14 hari sejak dinyatakan positif melalui tes swab PCR maupun swab antigen. Saat ini mungkin beberapa dari Anda yang membaca artikel ini sedang menjalani isolasi mandiri...

Selengkapnya

Kasus COVID-19 di Indonesia Terus Meroket, Apa yang Harus Kita Lakukan?

“Kapan pandemi ini akan berakhir?” pertanyaan ini mungkin pernah terbesit di benak kita semua. Sudah 1,5 tahun lamanya pandemi COVID-19 ini berlangsung, namun belum ada tanda-tanda pandemi ini akan berakhir. Keinginan untuk bisa kembali bebas beraktivitas seperti dulu lagi sudah tak tertahankan. Namun belakangan justru pandemi COVID-19 ini semakin merajalela di negeri kita yang tercinta ini. Pertambahan kasus terkonfirmasi positif terus naik, rumah sakit sudah kewalahan, bahkan...

Selengkapnya